Nama Kegiatan
Penelitian dan Evaluasi Hasil Pengeboran Logam Timah Primer di Daerah Parit Tebu Kecamatan Gantung Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung

Tahun

2015

Kelompok Penyelidikan

Mineral

Tingkat Penyelidikan

Ketua Tim

Soepriadi, S.T.

Provinsi

Bangka Belitung

Kabupaten

Belitung Timur

Daerah/Lokasi Khas

Parit Tebu

Koordinat Wilayah

1). 108.112638888889,  -2.95919444444444
2). 108.112638888889,  -3.00436111111111
3). 108.058722222222,  -3.00436111111111
4). 108.058722222222,  -2.95919444444444


Keterangan
Pulau Belitung termasuk jalur timah Indonesia yang memanjang dari tenggara hingga Baratdaya, Selain Pulau Belitung, pulau lain seperti Bangka, Singkep, Kundur, Karimun dan pulau-pulau kecilnya juga termasuk penghasil timah di Indonesia. Jalur timah ini menerus hingga ke Malaysia-Thailand dan Burma. Pulau-pulau yang disebutkan diatas yang terletak di Jalur timah Indonesia, tidak diragukan sebagai penghasil timah terbesar di dunia.Secara regional, Pulau Belitung ditutupi oleh runtunan batuan metasedimen yang berumur dari Karbon hingga Perem (Gambar 13). Runtunan ini dibedakan menjadi Formasi Kelapa Kampit, Tajam dan Siantu (Baharuddin dkk., 1995). Didaerah penyelidikan mineralisasi timah primer yang dijumpai dipermukaan umumnya mempunyai tipe urat dengan gangue mineral berupa kwarsa yang berasosiasi dengan mineral besi. Mineralisasi terdapat dalam batupasir kwarsa kadang berselingan dengan batulanau/lempung yang termetakan. Sedangkan dari hasil pemboran tidak nampak jelas mineralisasi timah yang diamati. Kemungkinan mineralisasi timah terdapat sebagai urat halus/hairline bersama dengan mineral besi yang memotong batupasirkwarsa, batu lanau dan batulempung. Mineralisasi tipe urat kwarsa polimetalik yang mengandung galena, spalerit dan pirit terdapat dalam batuan meta batu pasir/kwarsit. Proses pembentukan mineralisasi diperkirakan mempunyai tiga tahap. Tahap pertama mineralisasi timah tipe urat yang berhubungan dengan batolit granit Tanjung Pandan berumur Trias. Kemudian tahap dua adalah pembentukan urat kwarsa putih susu, masiv dengan mineralisasi pirit akibat terobosan batuan adamelit Baginda berumur Jura. Tahap ketiga atau terakhir adalah adanya terobosan batuan diorit kwarsa Batubesi berumur Kapur yang meyebabkan terbentuknya mineralisasi tipe urat kwarsa polimetalik yang mengandung galena, sphalerit dan pirit. Respon hasil survey IP pada lintasan E menunjukkan khususnya pada titik lubang bor LB-02 terlihat semakin kedalam terjadi peningkatan resistivity dan chargebility. Anomali ini diperkirakan lebih mencerminkan pada kondisi batuan yaitu adanya kwarsit dan kandungan mineral sulfida yang tinggi berupa urat polimetalik.