Nama Kegiatan
Penyelidikan Pendahuluan Kandungan Minyak Dalam Batuan Daerah Wangon Kab. Cilacap Dan Banyumas Provinsi Jawa Tengah

Tahun

2009

Kelompok Penyelidikan

Batubara

Tingkat Penyelidikan

Survei Tinjau

Ketua Tim

-

Provinsi

Jawa Tengah

Kabupaten

Banyumas

Daerah/Lokasi Khas

Wangon

Koordinat Wilayah

1). 109,  -7.25
2). 109,  -7.52083333333333
3). 108.75,  -7.52083333333333
4). 108.75,  -7.25


Keterangan
Daerah penyelidikan terletak disekitar Daerah Wangon, yang secara geologi terletak pada Cekungan Banyumas dengan formasi batuan utama yang terkait dengan rembasan minyak yaitu Formasi Halang, Rambatan dan Formasi Pemali bagian atas. 2. Rembesan minyak dan batuan yang berbau minyak di daerah penyelidikan merupakan petunjuk awal keterdapatan endapan hidrokarbon, yang umumnya dikontrol oleh struktur geologi yang berupa Antiklin dan Patahan. 3. Evaluasi geokimia terhadap contoh batuan dan minyak rembesan Daerah Wangon, Jawa Tengah memberikan kesimpulan sebagai berikut: a). Berdasarkan hasil analisis TOC batuan dari Formasi Halang, Rambatan dan Formasi Pemali bagian atas, menunjukkan prosentase karbon organik bekisar dari 0,22% sampai 0,71% yang mengindikasikan bahwa formasi-formasi batuan tersebut merupakan batuan sedimen yang berpotensi rendah sebagai sumber hidrokarbon. b). Berdasarkan sidikjari kromatogram GC menunjukkan bahwa minyak rembasan telah mengalami biodegradasi yang ditunjukkan oleh diagram pik n-alkana yang tidak jelas dan tidak terpisahkan dengan baik, serta mempunyai karakter yang sangat berbeda dengan n-alkana dan sterana batuan. c). Berdasarkan hasil analisis GCMS dan indeks BMI, mengindikasikan bahwa kandungan material organik Fm. Rambatan berasal dari tumbuhan darat tingkat tinggi yang diendapkan dalam lingkungan delta dan telah mengalami kematangan termal (Thermally mature), akan tetapi kandungan material organik Fm. Pemali berasal dari tumbuhan akuatik, algae sampai tumbuhan tingkat tinggi yang diendapkan dalam lingkungan marin, namun belum mengalami tingkat kematangan (Immature), sedangkan material organik dari minyak rembasan berasal dari tumbuhan darat tingkat tinggi mengadung resin yang diendapkan dalam lingkungan delta dan telah mengalami tingkat kematangan penuh (Fully mature). 4. Berdasarkan analisis bakar dan petrografi organik terhadap contoh formasi batuan di sekitar daerah Wangon memberikan kesimpulan sebagai berikut : a). Memperhatikan hasil analisis bakar (Retort analysis) dari contoh batuan di daerah penyelidikan yang hasilnya nihil, maka formasi-formasi batuan yang tersingkap di sekitar daerah tersebut, kecil kemungkinannya dapat berfungsi sebagai batuan induk dari rembasan minyak. b). Analisis petrografi organik dari contoh batuan singkapan pada formasi-formasi batuan di daerah penyelidikan menunjukkan bahwa kandungan maseral Vitrinit, Liptinit dan Inertinit umumnya `absent` (Kosong), kecuali pada contoh batuan WN-41/FP pada Fm Pemali yang menunjukkan nilai reflektansi Vitrinit sekitar 0,43% berarti formasi-formasi batuan singkapan di sekitar daerah penyelidikan bukan sebagai batuan induk hidrokarbon, demikian pula pada Fm. Pemali telah mempunyai tingkat kematangan yang sangat rendah (Immature), hal ini sesuai pula dengan hasil-hasil analisis GCMS. 5. Tidak dijumpai adanya korelasi positif antara minyak rembesan dengan batuan sedimen Fm. Rambatan dan Fm. Pemali di daerah penyelidikan, sedangkan Fm. Halang diperkirakan sebagai batuan resevoir yang dominan akan lapisan batupasir yang terlipat sebagai struktur antiklin menunjam dan terpotong oleh kegitan patahan, sehingga minyak merembas melalui kontrol rekahan-rekahan patahan, 6. Sumber minyak bukan berasal dari Formasi Halang, Rambatan dan Formasi Pemali yang tersingkap disekitar daerah penyelidikan, melainkan besar kemungkinannya diperkirakan berasal dari formasi batuan yang lebih dalam lagi yang tidak tersingkap di permukaan.