Nama Kegiatan
Inventarisasi Batubara Marginal Di Daerah Simenggaris Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Timur

Tahun

2005

Kelompok Penyelidikan

Batubara

Tingkat Penyelidikan

Survei Tinjau

Ketua Tim

-

Provinsi

Kalimantan Utara

Kabupaten

Nunukan

Daerah/Lokasi Khas

Simenggaris

Koordinat Wilayah

1). 117.5,  4
2). 117.5,  4.25
3). 117.25,  4.25
4). 117.25,  4


Keterangan
1. Morfologi daerah penyelidikan dapat di bagi menjadi 2 satuan morfologi, yaitu • Satuan morfologi Dataran, yang menempati daerah mulai dari pantai sampai daerah bagian barat daerah penyelidikan. • Satuan morfologi perbukitan bergelombang, wilayahnya menempati bagian barat dan utara daerah penyelidikan. 2. Struktur geologi yang berkembang adalah struktur perlipatan, struktur sesar, dan patahan 3. Formasi pembawa batubara di daerah penyelidikan adalah Formasi Tabul dan Formasi Meliat. 4. Penyebaran lapisan batubara didaerah penyelidikan membentuk sinklin dan merupakan multi seam, diperkirakan terdiri dari 12 seam dengan ketebalan antara 0,1 – 1,8 m, dimana pada formasi Tabul di identifikasi 1 lapisan batubara, dari formasi Meliat di identifikasi 11 lapisan batubara, total sumberdaya Hipotetik 10.481.058,32 ton. 5. Dari hasil analisa yang dilakukan di laboratorium kimia mineral di ketahui bahwa kualitas batubara di daerah penyelidikan mempunyai kisaran nilai kalori antara 3578 – 7141 cal/gr, total sulfur 0,47 –2,1 %, kandungan abu 7,25 – 40,41%, fixed carbon antara27,78 – 48,71 %, volatile matter 26,13 –43,48%, kandungan air 2,5 –8,68%, kandungan air total 3,11- 14,33%, Kandungan air bebas 0,63 – 6,19 %. Dari analisa Petrografi rata-rata tiap lapisan mempunyai nilai rank yang cukup baik dengan kisaran antara 0,52 – o,65 %, ini menunjukkan bahwa tingkat kematangan batubara didaerah ini sudah tinggi, ini juga tercermin dengan nilai kalori yang cukup tinggi, komposisi maseral yang dominant dalam batubara adalah vitrinit dengan jumlah antara 76,8 – 99,2%, sedangkan kandungan sulfur yang tinggi merupakan bagian dari mineral pyrite dengan kandungan antara 0,1 – 3,5 %, 6. Hampir sebagian besar daerah inventarisasi sudah menjadi perkebunan kelapa sawit, sehingga dalam pengelolaan batubara harus melibatkan pihak perkebunan, dengan menerapkan skala prioritas. 7. Untuk mengetahui potensi endapan batubara yang lebih akurat, diusulkan untuk mengadakan penyelidikan lanjutan, dengan sasaran khusus pada formasi Meliat.