Nama Kegiatan
Penyelidikan Geokimia Sistematik Lembar Atambua, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Tahun

2004

Kelompok Penyelidikan

Mineral Logam

Tingkat Penyelidikan

Ketua Tim

-

Provinsi

Nusa Tenggara Timur

Kabupaten

Belu

Daerah/Lokasi Khas

-

Koordinat Wilayah

1). 125,  -9
2). 125,  -10
3). 124,  -10
4). 124,  -9


Keterangan
Berdasarkan hasil penyelidikan geokimia sedimen sungai –80#, dapat disimpulkan bahwa terdapat sebaran anomali di daerah penyelidikan ini antara lain: • Anomali emas di daerah Lasiolat dekat Fatu Lakaan, daerah Tukuneno dan Bauho, serta daerah Numponi, Fahiluka dan Kletek di sebelah timur daerah Sulit di bagian selatan. Walaupun sebarannya tidak begitu luas, unsur Au tersebut mempunyai kekerabatan yang tidak begitu kuat dengan unsur Ni dan Mo. Akibat proses hidrotermal, hal tersebut memungkinkan karena daerah peninggian tersebut merupakan pertemuan beberapa sesar yang terdapat disitu yang berarah timurlaut – baratdaya dan ada yang hampir utara selatan yang memotong batuan sedimen Pra Tersier dan batuan bancuh yang berumur Tersier Atas, yang menjadi tempat lewatnya larutan hidrotermal tersebut, dimana aktivitasnya pada batuan sekitarnya membawa pemineralan emas. • Terdapat kekerabatan yang kuat sekali antara unsur-unsur Cu – Zn – Co – Ni, kemungkinan diakibatkan adanya batuan asal yang mendasarinya yaitu batuan batuan bancuh, ultra basa dan gunungapi serta malihan yang mempunyai konsentrasi harga latar belakang yang cukup tinggi yang kemudian diikat secara kimiawi pada lingkungan geokimia permukaan oleh unsur “scavenging” seperti Fe dan Mn, dan juga adanya ubahan-ubahan yang ditemukan pada batuan ultrabasa yang segar maupun yang lapuk (tanah laterit) yang membawa keterdapatan unsur Ni bersama-sama Cr (sekunder) seperti yang ditemukan di daerah Fatuonik, Aitaman dan di Desa Naku, Kecamatan Biboki Utara. Kemungkinan lainnya adanya kekerabatan unsur-unsur Pb – Mn - Cr – Fe walaupun kekerabatannya tidak begitu kuat, dihasilkan oleh pemineralan sulfida yang dihasilkan dari larutan hidrotermal atau juga karena sifat “scavenging” dari kedua unsur diatas tadi. Adanya kekerabatan, walapun negatif juga terlihat antara unsur K dengan Li serta Ag. Hal tersebut mencerminkan adanya batuan yang berkomposisi asam atau merupakan isyarat tersingkapnya batuan malihan berkomposisi kuarsa, feldspar dan mika, sedangkan unsur Fe kemungkinan juga berasal dari mineral–mineral feromagnesian dari batuan gunungapi.