Nama Kegiatan
Makalah Pemetaan Endapan Bitumen Padat di Daerah Tigabinanga dan sekitarnya, Kabupaten Karo, ProPinsi Sumatra Utara

Tahun

2001

Kelompok Penyelidikan

Batubara

Tingkat Penyelidikan

Ketua Tim

-

Provinsi

Sumatera Utara

Kabupaten

Karo

Daerah/Lokasi Khas

Tigabinanga

Koordinat Wilayah

1). 98,  3.25
2). 98,  3.5
3). 97.75,  3.5
4). 97.75,  3.25


Keterangan
Daerah Tiga Binanga ditempati oleh 2 (dua) kelompok batuan yaitu kelompok Pre-Tersier dan Tersier yang dipisahkan oleh ketidakselarasan. Batuan-batuan kelompok Pre-Tersier umumnya telah termalihkan mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi sehingga kecil kemungkinannya sebagai “source rock”. Kelompok Tersier hanya Formasi Butar yang terbentuk dalam cekungan akibat sesar bongkah. Formasi disusun oleh klastika kasar dibagian bawah dan perselingan batulempung dan batupasir di bagian atas yang diendapkan pada lingkungan pengendapan paralik hingga fluvial dan berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Kelompok Kuarter terdiri dari tuf Toba dan piroklastik Gunung Kembar yang berumur Plistosen. Formasi yang diduga sebagai pengandung endapan bitumen padat adalah Formasi Butar dan penyebaran batuan pengandung bitumen padat dibagi menjadi dua blok yaitu Blok Laurimang dan Blok Batumamak.. Blok Laurimang mengandung tiga lapisan yaitu Lapisan A tebal 9m sampai 23 m, Lapisan B 27 m dan Lapisan C (1 – 8) m. Blok ini mempunyai struktur sinklin yang berarah baratlaut – tenggara dan kemiringan lapisan berkisar antara 35° - 50°. Blok Batumamak mengandung 2 (dua) lapisan yaitu Lapisan B (2-9) m dan Lapisan C ( 12 – 25 ) m. Lapisan ini menempati struktur lipatan dengan arah baratlaut-tenggara dan sudut kemiringan lapisan berkisar antara 10° - 35°. Hasil pengujian petrografi menunjukkan bahwa yang diduga sebagai pembawa bitumen padat miskin akan material organik. Material organik yang hadir antara lain maseral vitrinit sedangkan liptinit atau lamalginit umumnya absen. Pengukuran nilai reflektan vitrinit berkisar antara 0,79 -–1,36 yang berarti fase “oil window” telah dilalui sehingga maseral-maseral pembentuk minyak berubah wujud dari padat menjadi cair dan selanjutnya mengalami migrasi. Hal ini terbukti dari analisa bakar yang menunjukkan kandungan minyak dalam batuan hampir tidak ada atau nihil. Berdasarkan kajian tersebut penulis berkesimpulan bahwa endapan bitumen padat tidak berkembang di daerah penelitian yang disebabkan oleh • Miskinnya sumber material organik. • Kondisi cekungan kurang sesuai dan • Sedimen pembentuk Formasi Butar terkubur sangat dalam sehingga fase “oil window” terjadi atau berumur lebih tua dari umur yang ditentukan sekarang